Bukan Hanya Malas: Menguak Akar Permasalahan Mahasiswa Enggan ke Kampus

Dipublikasikan 10 Agustus 2026

Mahasiswa Enggan ke Kampus? Ternyata Ini Bukan Soal Malas Saja

Belakangan, istilah “mahasiswa enggan ke kampus” jadi bahan candaan di media sosial. Ada juga yang langsung menyimpulkan ini sebagai tanda kemalasan generasi Z. Tapi tunggu dulu—apakah benar hanya soal malas? Kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata ada akar masalah sistemik yang sering diabaikan.

Mitos vs Realita: Kenapa “Malah ke Kampus” Bisa Jadi Masalah Psikologis

Psikolog教育 dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rani Febrianti, menyebut bahwa enggan ke kampus bisa terkait dengan social exhaustion atau kelelahan sosial. Gen Z tumbuh di era digital, di mana interaksi langsung bukan lagi kebutuhan primer—tapi keharusan di kampus. Ketika kelas online mengajarkan fleksibilitas, kembali ke rutinitas tatap muka jadi tantangan besar bukan karena malas, tapi karena kurangnya adaptasi.

Ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang tumbuh dengan norma tatap muka sebagai standar. Untuk mahasiswa yang sejak SMA hampir tidak pernah bertemu guru langsung—terutama pasca-pandemi—perubahan tiba-tiba ke model pembelajaran offline bisa memicu kecemasan sosial.

Sistem Akademik yang Tidak Ramah: Akar Permasalahan yang Sering Dilupakan

Salah satu sudut pandang unik yang jarang dibahas: enggan ke kampus sering terkait dengan ketidaksesuaian antara kurikulum dan kebutuhan nyata. Mahasiswa merasa waktu dan energi terbuang karena kuliah terlalu teoretis, sementara industri membutuhkan keterampilan praktis.

Bahkan, survei dari Kampus Merdeka (2025) menunjukkan 61% mahasiswa merasa pembelajaran di kampus tidak memberikan dampak karier signifikan. Akibatnya? Mereka lebih memilih belajar mandiri melalui platform seperti Dicoding, Hacktiv8, atau bahkan membuat proyek nyata di dunia nyata.

Budaya Kampus yang Tidak Inklusif

Belum lagi budaya kampus yang belum sepenuhnya inklusif. Mahasiswa dari latar belakang ekonomi rendah sering terpaksa memilih antara makan dan transportasi ke kampus. Sementara mahasiswa disabilitas menghadapi infrastruktur yang belum mendukung.

Faktanya, menurut data Kementerian Pendidikan 2025, hanya 38% perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki akses ramah disabilitas. Belum lagi soal kebijakan yang memaksa kehadiran 100% tanpa mempertimbangkan kondisi personal—seperti kesehatan mental atau tanggung jawab keluarga.

Jawaban Bukan hanya “Wajib Hadir”, Tapi Transformasi Budaya

Alih-alih mempersulit dengan aturan ketat, solusi lebih efektif justru datang dari transformasi budaya dan fleksibilitas. Beberapa kampus—seperti Universitas Airlangga dan Politeknik Negeri Bandung—mulai menerapkan model hybrid yang memberi ruang belajar daring dan tatap muka berbasis proyek.

Kuncinya bukan kehadiran fisik semata, tapi nilai yang dihasilkan. Kalau mahasiswa tahu bahwa pergi ke kampus bermanfaat langsung untuk portofolio, magang, atau jaringan, mereka akan datang—bukan karena dipaksa, tapi karena ingin.

Penutup: Jangan Stigmakan, Hiwarasi

Enggan ke kampus bukan tanda kemalasan, tapi sinyal bahwa sistem perlu berubah. Daripada memberi stigma, lebih baik kita diskusikan bersama: apa yang sebenarnya membuat mahasiswa enggan? Dan bagaimana kampus bisa jadi ruang yang benar-benar diinginkan, bukan hanya diwajibkan?

Bagi mahasiswa: kenali akar penyebabnya—bukan hanya disiplin, tapi juga kondisi yang perlu diperbaiki bersama. Karena kehadiran sejati bukan soal absensi, tapi keterlibatan.

← Kembali ke daftar artikel